Nihonjinkai (Perkumpulan Orang-Orang Jepang)
di Sulawesi Pada Masa Pra-perang

MATSUDA Isao

Saya akan menjelaskan beberapa hal terkait hubungan sejarah Indonesia-Jepang.
Tepatnya, hubungan antara Jepang dan Sulawesi. Terbetik di pikiran saya, bagaimana membina dan memajukan hubungan dan kerja sama yang lebih baik khususnya hubungan antar masyarakat biasa (people to people) di masa mendatang? Berdasarkan pemikiran tersebut maka perlu diketahui latar belakang sejarahnya.
Dokumen dan referensi dan juga catatan sejarah di masa pra PD II dibandingkan dengan masa sesudahnya, sangat sedikit.
Oleh karena itu, banyak terjadi ketidakjelasan dan kerancuan. Tapi, dalam situasi seperti itu, masih ada hal yang agak menggembirakan. Misalnya pada tahun 1939 atau tahun 14 Showa masih terdapat referensi yang dapat ditemukan.
Pada kesempatan ini saya ingin menjelaskan dan menguraikan tentang "Orang-Orang Jepang" atau yang disebut Nihonjinkai di wilayah Sulawesi atau dahulu dikenal dengan Celebes.

1. Manado Nihonjinkai/Perkumpulan Orang Jepang di Manado

Pertama-tama saya akan memulai dengan asosiasi orang-orang Jepang yang beranggotakan paling banyak, yang ada di Manado.
Asosiasi orang-orang Jepang di Manado didirikan pada tahun Taisho ke-4 atau 1915. Kemudian pada tahun 1935 pemerintah Hindia Belanda juga mencatat keberadaan asosiasi. Pada tahun 1939 (Showa 14) anggotanya mencapai 186 orang, di mana orang-orang yang tinggal di Tomohon dan Bitung pun tercatat sebagai,anggota. Ketua asosiasi adalah Inagaki Tatsuo (Nanyo Boeki Co.) pada waktu itu. Tetapi menurut data pada tahun 1937, ia digantikan oleh Yamazaki Gunta (Nanyo Boeki Co.). Orang inilah, yang nantinya menjadi Walikota Makassar di masa penjajahan Jepang.
Anggota perkumpulan ini, dalam catatan di dokumen adalah, “Orang-orang yang melakukan bisnis di bidang perikanan yang terbanyak, selanjutnya adalah usaha-usaha (ekonomi) kecil, dan di bidang pertanian.” Para pelaku bisnis perikanan banyak berdiam di Bitung namun sangat disayangkan catatan tentang siapa saja nama yang ada, tidak diketemukan.
Sekarang saya akan membahas tentang "Perkumpulan Pedagang Orang Jepang di Manado.”
Tujuan perkumpulan orang Jepang di Manado ini didirikan untuk menjalin kerja sama antaranggota dan sebagai wadah pertemuan. Bahkan, untuk pendidikan anak-anak di daerah itu di tahun Showa ke-11 tepatnya tanggal 1 September 1936, dibuka “Sekolah Dasar Orang Jepang Manado”. Pada tahun yang sama pada tanggal 31 Desember dibuka gedung sekolah sementara. Sebagian dana operasional mendapatkan bantuan dana dari pemerintah Jepang.
Hal yang cukup menggembirakan, karena masih terdapat catatan daftar nama-nama murid pada waktu. Menurut catatan tersebut pada tahun Showa ke-12, tepatnya pada bulan Maret tahun 1937, murid angkatan pertama sebanyak 9 orang, jumlah murid angkatan kedua 2 orang dan angkatan ketiga sebanyak 4 orang. Total jumlah keseluruhan murid pada waktu itu adalah 15 orang. Profesi orangtua (ayah) murid yang terdapat dalam catatan tersebut adalah pedagang dan pegawai perusahaan 3 orang, tukang kayu 1 orang, fotografer 2 orang, di bisnis bidang perkebunan 1 orang.
Di Manado, juga terdapat asosiasi lain yang berama "Perkumpulan Orang-Orang Okinawa". Perkumpulan ini didirikan pada tahun Showa ke-12 atau 1937.
Tercatat jumlah anggotanya pada tahun 1939 adalah 85 orang. Salah satu kegiatannya adalah membuka sekolah tingkat dasar untuk anak-anak orang Okinawa yang tinggal di daerah Bitung.
Selanjutnya, saya akan membahas perkumpulan lainnya yang sebelumnya telah saya sebutkan sebelumnya, "Perkumpulan Pedagang Orang-Orang Jepang di Manado". Perkumpulan ini didirikan pada tahun Showa ke-9 atau tepatnya bulan Maret tahun 1934. Anggotanya bukan merupakan individu melainkan nama-nama perusahaan.
Dari tahun 1939 terdapat 7 perusahaan yang menjadi anggotanya yaitu antara lain Nanyo Boeki, Toko Kaneko, Selebes Kogyo, Toko Futaba Shokai,Harima Shokai, Tomoe Shokai, perusahaan perikanan Oiwa. Tujuan asosiasi ini adalah menjalin kerjasama yang kuat antar anggota, dan meningkatkan hubungan kerjasama yang menguntungkan. Perkumpulan ini juga telah diberikan ijin (diotorisasi) pemerintah Hindia Belanda.

2. Perkumpulan orang-orang Jepang di Mongondow

Perkumpulan orang Jepang di Mongondow di daerah Modaya (Catatan: Modayang, Bolaangmongondow). Orang Jepang berada di daerah Mongondow mula-mula tercatat sebagai anggota asosiasi orang-orang Jepang di Manado. Tetapi karena daerah Modaya sangat jauh dan terpisah dari Manado dan dinilai tidak efektif sehingga perkumpulan ini didirikan. Pada bulan Mei tahun Showa ke-8 atau 1933 asosiasi orang-orang Jepang Mongondow di Modaya didirikan.
Jumlah anggotanya pada 1939 jumlah sebanyak 14 orang, dan anggota keluarganya sebanyak 38 orang, sehingga jumlah keseluruhannya adalah 52 orang.
Sebagai ketua asosiasi pada saat itu adalah Moritora Taro. Mengenai profesi dari ke-14 anggotanya, tidak terdapat dokumen yang mencatatnya. Namun dari catatan “Perkumpulan Orang Jepang Modaya yang Berbisnis Perkebunan,” yang akan dibahas selanjutnya, tercatat anggotanya sebanyak 9 orang setidaknya dapat menjelaskan apa saja dan bagaimana profesi mereka. Lebih dari separuh dari anggota ini tercatat dalam perkumpulan ini.
Perkumpulan ini mengoperasikan sekolah Jepang dalam tingkat dasar untuk pendidikan anak-anak yang tinggal disana. Selain itu terdapat perkumpulan lain yaitu “Modaya Hojin Noen Kyokai” atau perkumpulan Orang Jepang yang bergerak di bidang perkebunan. Perkumpulan ini didirikan pada bulan Februari tahun Showa ke-1 atau tahun 1936. Jumlah anggotanya tercatat sebanyak 9 orang.
Kegiatan Perkumpulan ini adalah pembudidayaan kopi dan tanaman lain yang menghasikan keuntungan, sera pembudidayaan karet, cengkeh, kapok randu, berbagai jenis karet dan biji-bijian dan lainnya.
Telah disebutkan karena Yamazaki Gunta tercatat melakukan bisnis kebun kopi di Modaya, maka diperkirakan dia merupakan anggota perkumpulan ini.
Perkumpulan ini menurt saya cukup menarik. Namun demikian, pada tahun 1939 terjadi penurunan harga yang sangat tajam dalam agribisnis untuk jangka panjang. Dalam catatan disebut perkumpulan ini dalam keadaan yang sulit dan tidak mudah dipertahankan.

3. Perkumpulan Orang-Orang Jepang di Makassar

Selanjutnya adalah Perkumpulan Orang-Orang di Makassar. Sayangnya, catatan detail mengenai perkumpulan ini sangat minim. “Makassar Nihonjinkai” Perkumpulan orang-orang Jepang di Makassar didirikan bulan Mei tahun 1918 (Taisho ke-7). Jumlah anggota pada tahun 1939 sebanyak 124 orang kemudian yang menjadi ketuanya adalah Murata Masutarou.
Perkumpulan ini menggalang dana kegiatan untuk pendidikan tingkat dasar bagi anak-anak. Sekolah dasar orang Jepang juga dibuka pada saat itu. Termasuk catatan mengenai Nihonjinkai (perkumpulan orang Jepang) dapat dijadikan referensi.
Dirasakan benar perlunya adanya arsip dan dokumen untuk menelti lebih jauh keberadaan orang-orang Jepang di Makassar di masa itu.

4. Nihonjinkai di Buton

Perkumpulan orang-orang Jepang di Buton didirikan tahun Taisho ke-9 atau tahun 1920 di pulau Buton. Jumlah anggotanya pada tahun 1939 sebanyak 12 orang dan ketuanya adalah Oda Katsuzou. Hanya catatan ini yang dapat terekam. Namun demikian daerah ini merupakan wilayah atau area orang-orang penyelam (pencari kerang dan mutiara). Maka kemungkinan besar anggota perkumpulan orang-orang Jepang di wilayah ini terkait dengan kegiatan. tersebut.
Tetapi bisa diperkirakan anggotanya bekerja di bidang yang ada hubungannya dengan ini. (perkumpulan orang-orang Jepang dengan daerah-daerah tetangga)

5. Perkumpulan orang Jepang di daerah sekitarnya (Indonesia Timur)

Perkumpulan orang Jepang juga terdapat di daerah lain yaitu di:
Ternate Nihonjinkai (didirikan bulan Agustus tahun 1931). Jumlah anggotanya 24 orang.
Amboina Nihonjinkai (Ambon) Didirikan bulan Mei 1933. Jumlah anggotanya 30 orang.
Dobo Nihonjinkai (di daerah Asia Tenggara merupakan perkumpulan orang Jepang paling tua setelah Medan) didirikan pada tahun Meiji 38 atau 1905 bulan Mei. Pada tahun 1939 tercatat anggotanya sebanyak 76 orang.

6. Nihonjinkai di masa sekarang.

Nihonjinkai di Sulawesi pada Oktober 2007 mencatat jumlah anggota 92 orang di Makassar, di Manado 11 orang dan di Kendari 23 orang.


* Matsuda Isao: mantan konsul jenderal Jepang di Makassar 1998-2001
** Presentasi di "Workshop dan Seminar Internasional Hubungan Jepang-Indonesia di Mata Orang Biasa dan Pengarsipan Pribadi sebagai Gaya Hidup di Era Digital" di Makassar